ROKAN HULU – Atraksi seni tradisional Lukah Gilo yang ditampilkan delegasi mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP), Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau, berhasil memukau sivitas akademika Universitas Amikom Yogyakarta. Pertunjukan budaya Melayu tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam agenda kunjungan kelembagaan yang berlangsung di Ruang Citra, Kampus Universitas Amikom Yogyakarta.
Atraksi Lukah Gilo yang sarat dengan nilai tradisi dan kearifan lokal masyarakat Melayu Riau itu menarik perhatian dosen hingga mahasiswa Amikom Yogyakarta. Bahkan, sejumlah peserta yang menyaksikan pertunjukan tersebut menunjukkan ketertarikan untuk melihat secara langsung bagaimana tradisi itu dipraktikkan di Kabupaten Rokan Hulu.
Pertunjukan tersebut dibina langsung oleh Dosen Program Studi S1 Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi (FE) UPP, Andi Lesmana, SE, MM. Dalam penampilannya, para mahasiswa mengenakan busana adat Melayu lengkap dengan kain songket dan tanjak, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah asal mereka kepada lingkungan akademik di Yogyakarta.
Andi Lesmana, SE, MM, Senin (26/10/2026) menjelaskan bahwa penampilan Lukah Gilo bukan sekadar hiburan dalam agenda kunjungan, melainkan bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Melayu Riau kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, pengenalan budaya melalui lingkungan perguruan tinggi menjadi salah satu cara untuk memperkuat identitas daerah sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarkampus.
“Ketertarikan sivitas akademika Amikom Yogyakarta terlihat ketika mereka menyaksikan langsung gerakan Lukah Gilo dalam pertunjukan tersebut. Sejumlah peserta bahkan penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh bagaimana alat tradisional itu dapat bergerak ketika atraksi berlangsung,” tuturnya.
Lanjut Andi, Rasa penasaran tersebut membuat pihak Prodi Kewirausahaan UPP kembali memperagakan atraksi Lukah Gilo pada hari yang sama. Pertunjukan kedua ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengamati lebih dekat atraksi tradisional yang berasal dari khazanah budaya Melayu tersebut.
Ketertarikan itu juga memunculkan keinginan dari pihak Amikom Yogyakarta untuk berkunjung langsung ke Kabupaten Rokan Hulu. Kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari lebih jauh tradisi Lukah Gilo, termasuk latar belakang budaya dan praktiknya dalam kehidupan masyarakat setempat.
“Antusiasme terhadap pertunjukan tersebut berlanjut setelah atraksi selesai. Pihak Amikom Yogyakarta meminta agar alat peraga Lukah Gilo yang digunakan dalam demonstrasi itu diserahkan kepada kampus sebagai kenang-kenangan,” terangnya.
Permintaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi atas pengenalan budaya yang dibawa delegasi UPP dari Rokan Hulu. Keberadaan alat peraga itu diharapkan dapat menjadi pengingat akan kekayaan tradisi daerah sekaligus membuka kesempatan bagi sivitas akademika untuk mengenal lebih jauh kebudayaan Melayu Riau.
Bagi delegasi UPP, respons positif tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan lokal memiliki daya tarik untuk diperkenalkan di tingkat nasional, terutama melalui kegiatan pendidikan, pertukaran pengalaman, dan kerja sama antarlembaga perguruan tinggi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Sosial (FES) Universitas Amikom Yogyakarta, Emha Taufik Luthfi, ST, M.Kom, P.hD menyampaikan terima kasih kepada delegasi UPP atas penampilan seni tradisional Melayu Riau, khususnya Lukah Gilo yang diperkenalkan sebagai bagian dari tradisi masyarakat Kabupaten Rokan Hulu.
Ia mengaku tertarik setelah menyaksikan pertunjukan tersebut dan mendengarkan penjelasan mengenai latar belakang tradisi Lukah Gilo serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat, termasuk aktivitas menangkap ikan.
Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, termasuk tradisi lokal yang terus hidup di tengah masyarakat.
Ia juga menilai, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan potensi ekonomi daerah apabila tradisi tersebut dikelola dan diperkenalkan secara tepat.
“Setelah menyaksikan pertunjukan Lukah Gilo tadi, kami semakin menyadari bahwa Indonesia sangat kaya dengan kebudayaan, termasuk budaya lokal. Tradisi seperti ini menarik untuk dipelajari, terlebih ketika menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan memiliki potensi untuk turut menggerakkan perekonomian daerah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan perguruan tinggi untuk mengintegrasikan pengenalan kebudayaan dalam proses pendidikan.
“Harapannya, ini bisa menjadi contoh bagi kami bahwa perkuliahan tidak hanya tentang belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar kebudayaan. Dengan demikian, kita dapat membentuk masyarakat yang berilmu sekaligus berbudaya,” tambahnya.
Melalui penampilan Lukah Gilo di Yogyakarta, mahasiswa UPP diharapkan mampu menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan memperkenalkan potensi daerah.
Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik dan kebudayaan lokal. Dari Rokan Hulu ke Yogyakarta, Lukah Gilo menjadi bukti bahwa tradisi daerah dapat menghadirkan pengalaman belajar yang menarik, mempererat hubungan antarkampus, serta menumbuhkan apresiasi terhadap keberagaman budaya Indonesia.
