ROKAN HULU – Bantuan dunia usaha untuk pendidikan sering kali dipandang sebatas angka dalam laporan program tanggung jawab sosial. Namun di Kabupaten Rokan Hulu, sejumlah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional III menunjukkan bahwa bantuan tersebut dapat memiliki arti yang jauh lebih besar ketika hadir di tengah kebutuhan nyata masyarakat.
Mulai dari pembangunan kembali sekolah yang terbakar, penyediaan komputer, akses internet gratis, hingga pembangunan ruang belajar, berbagai program TJSL tersebut menyentuh langsung kebutuhan pendidikan di sejumlah wilayah Rokan Hulu.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar berapa besar bantuan yang disalurkan, melainkan sejauh mana bantuan tersebut benar-benar berubah menjadi kesempatan belajar bagi anak-anak.
Berdasarkan informasi yang disampaikan perusahaan dan diberitakan ANTARA, total bantuan TJSL PTPN IV Regional III di Kabupaten Rokan Hulu mencapai sekitar Rp2,4 miliar.
Program tersebut mencakup sektor pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan infrastruktur sosial. Khusus sepanjang 2025, tercatat sebanyak 66 jenis program bantuan direalisasikan di berbagai kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu.
Kehadiran program tersebut berlangsung di tengah kebutuhan terhadap fasilitas pendidikan yang masih tersebar di berbagai wilayah.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rokan Hulu juga telah menerbitkan Statistik Pendidikan Kabupaten Rokan Hulu 2025 pada Juni 2026. Publikasi tersebut menggambarkan kondisi dan capaian pendidikan daerah berdasarkan data Susenas Maret 2025.
Ketika Teknologi Masuk ke Ruang Kelas
Salah satu bentuk dukungan yang mendapat perhatian adalah pengadaan komputer serta layanan internet gratis selama satu tahun bagi lima sekolah di Rokan Hulu.
Di antaranya SMPN 1 Kunto Darussalam dan SDN 003 Pagaran Tapah.
Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses teknologi digital bagi para pelajar, terutama di tengah tuntutan pembelajaran yang semakin berkaitan dengan teknologi dan informasi.
Bagi sekolah, perangkat komputer dan koneksi internet bukan sekadar fasilitas tambahan. Kehadirannya dapat membuka akses terhadap berbagai sumber pembelajaran yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada barang yang diterima sekolah, tetapi dapat menjadi sarana yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Ketika Sekolah Terbakar
Makna bantuan pendidikan menjadi semakin nyata ketika sekolah bukan hanya mengalami keterbatasan fasilitas, tetapi kehilangan sebagian ruang belajarnya akibat musibah.
Hal tersebut dialami SDN 011 Desa Langkitin, Kabupaten Rokan Hulu, yang mengalami kebakaran dan membutuhkan pembangunan kembali.
Melalui program TJSL, PTPN IV PalmCo Regional III menyalurkan bantuan sebesar Rp199 juta untuk mendukung pembangunan kembali sekolah tersebut. Bantuan itu diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu.
Wakil Bupati Rokan Hulu, Syafarudin Poti, sebagaimana diberitakan Katakabar, menyampaikan bahwa bantuan tersebut membantu mempercepat proses pembangunan kembali sekolah.
Menurutnya, apabila pembangunan hanya mengandalkan pembiayaan melalui APBD, prosesnya harus melalui tahapan pengajuan dan pembahasan anggaran.
Dalam konteks tersebut, keterlibatan dunia usaha menjadi bagian dari sinergi untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan yang dibutuhkan masyarakat.
Bantuan yang Terus Berjalan
Dukungan terhadap sektor pendidikan juga tidak berhenti pada satu program.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, program TJSL sektor pendidikan PTPN IV Regional III disebut telah menjangkau 10 institusi pendidikan, termasuk sekolah umum, pesantren, dan yayasan panti asuhan.
Kemudian pada September 2026, dukungan kembali diberikan melalui bantuan sebesar Rp50 juta untuk pembangunan ruang belajar di MTs Wahid Hasyim, Kecamatan Kabun, Rokan Hulu.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari paket TJSL senilai Rp110 juta, dengan sebagian besar alokasinya diarahkan untuk sektor pendidikan.
Nilai tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan akumulasi bantuan TJSL yang mencapai miliaran rupiah.
Namun, bagi sebuah sekolah yang membutuhkan ruang belajar, angka tersebut memiliki arti yang berbeda.
Ia dapat berubah menjadi dinding, lantai, atap, meja, kursi dan ruang yang memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih layak.
CSR Bukan Pengganti Tanggung Jawab Pemerintah
Kehadiran perusahaan dalam membantu sektor pendidikan tentu tidak berarti menghilangkan tanggung jawab pemerintah.
Pendidikan tetap merupakan tanggung jawab publik yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah, guru, keluarga, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
CSR atau TJSL perusahaan berada sebagai salah satu bentuk kontribusi dunia usaha terhadap persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat.
Dalam kasus pembangunan kembali SDN 011 Langkitin, misalnya, sinergi pemerintah daerah dan dunia usaha menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan.
PTPN IV Regional III juga menyatakan bahwa pelaksanaan program TJSL dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat, sehingga program yang dijalankan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar bantuan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka lebih panjang.
Dari Angka Menjadi Kesempatan
Rp2,4 miliar.
66 program pada 2025.
Rp199 juta untuk pembangunan kembali SDN 011 Langkitin.
Rp264 juta bantuan pendidikan pada semester pertama 2026.
Rp50 juta untuk pembangunan ruang belajar MTs Wahid Hasyim.
Jika berdiri sendiri, angka-angka tersebut hanyalah bagian dari laporan program.
Namun, ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, angka tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih konkret.
Menjadi ruang kelas.
Menjadi meja dan kursi.
Menjadi fasilitas sanitasi.
Menjadi komputer.
Menjadi akses internet.
Menjadi sekolah yang kembali berdiri setelah mengalami kebakaran.
Dan yang paling penting, menjadi tempat bagi anak-anak untuk kembali belajar.
Di titik inilah program TJSL dapat dilihat bukan semata sebagai kegiatan pemberian bantuan, melainkan sebagai salah satu bentuk keterlibatan dunia usaha dalam menjawab persoalan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, nilai sebuah bantuan bukan hanya terletak pada nominal yang disalurkan, tetapi pada manfaat yang lahir setelah bantuan tersebut diterima.
Ketika sebuah komputer memungkinkan siswa mengenal dunia digital, ketika internet membuka akses terhadap pengetahuan, dan ketika sebuah ruang kelas membuat anak-anak dapat kembali belajar dengan nyaman, maka bantuan tersebut telah bergerak lebih jauh dari sekadar pemberian.
Bantuan telah berubah menjadi kesempatan.
Penulis: Putri Aulia Oktafiona – Universitas Rokania
