Kamis, 23 Mei 2024

Sebanyak 25 Mahasiswa UPP Lulus Program Kampus Mengajar Angkatan 7

PASIRPENGARAIAN – Kampus Mengajar adalah sebuah program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa selama 1 (satu) semester untuk membantu para guru dan kepala sekolah jenjang SD dan SMP dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang terdampak pandemi.

Melalui program ini, mahasiswa bisa membaktikan ilmu, keterampilan, serta menginspirasi para murid sekolah dasar dan menengah tersebut untuk memperluas wawasan. Berbagai keuntungan bisa didapatkan jika mahasiswa mengikuti Kampus Mengajar.

Mulai dari terlibat langsung dalam pelaksanaan pembelajaran literasi, numerasi, serta adaptasi teknologi di jenjang SD dan SMP. Mengasah kepemimpinan, kreativitas, pemecahan masalah, dan inovasi langsung dari lapangan. Hingga mendapat bantuan biaya hidup dan uang SPP.

Dua puluh lima mahasiswa Universitas Pasir Pengaraian (UPP) lolos seleksi program Kampus Mengajar Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset danTeknologi (Kemendikbudristek) Angkatan 7 Tahun 2024.

Rektor UPP, Dr Hardianto MPd CPCT, Jumat (19/01/2024) mengatakan, mahasiswa akan mendapatkon versi 20 SKS untuk memenuhi persyaratan kuliah dan diakomodasi di kampus untuk diakui dalam 1 semester. Mahasiswa juga akan dapat piagam penghargaan, uang saku, dan lain sebagainya.

“Kami ucapkan selamat kepada 25 Mahasiswa UPP yang lulus pada program kali ini, semoga kita dapat memberikan kontribusi yang baik untuk kampus melalui program ini,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, selain mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri, program Kampus Mengajar juga memberikan keuntungan lain, yaitu semua kegiatannya dijamin oleh kampus dan Kemendikbudristek untuk mendapatkan pengakuan berupa konversi sebanyak 20 SKS yang akan dimasukkan kedalam matakuliah mahasiswa.

Hardianto menambahkan, bahwa kampus sangat Apresiasi kepada mahasiswa yang berhasil lulus, dan juga berharap para mahasiswa dapat menjawab berbagai tantangan pendidikan dan permasalahan di satuan pendidikan yang membutuhkan solusi lugas.

“Tantangan lain adalah bagaimana kemampuan para mahasiswa yang terlibat tetap berkaca dalam kearifan lokal meskipun sudah diterjang berbagai macam badai globalisme dan arus informasi yang mengalir sedemikian derasnya. Sehingga faktor Keindonesiaan dan Kebhinekaan tetap menjadi salah satu benang merah yang harus dilakukan dalam proses interaksi belajar mengajar kepada para siswa di sekolah,” paparnya.

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru