Minggu, 19 Mei 2024

Peranan Bidang Pedagogik dalam Kurikulum Merdeka, Memudar atau Semakin Menonjol

Atika Defita Sari

Mahasiswa Doktoral Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia, Penerima BPI Tahun 2022, Guru UPT SMPN 4 Tambang, Riau.

PASIRPENGARAIAN – Kurikulum merdeka, yang diluncurkan Mendikbudristek pada Februari 2022, merupakan upaya lanjutan yang dilakukan Kemdikbudristek mengatasi krisis belajar terlebih setelah pandemi covid-19. Pada masa pandemi, Kemdikbudristek memberikan 3 pilihan penggunaan kurikulum yakni kurikulum 2013, kurikulum darurat (kurikulum 2013 yang disederhanakan), dan Kurikulum Prototipe yang selanjutnya dikembangkan menjadi kurikulum merdeka.

Pasca pandemi, Kemdikbudristek menekankan pengimplementasian kurikulum merdeka untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama terjadi, dan menjadi semakin parah semenjak pandemi. Pandemi memberikan dampak yang radikal terhadap Pendidikan. Banyak temuan yang menunjukkan terjadinya ketertinggalan pembelajaran (learning loss) yaitu kondisi ketika siswa kehilangan kompetensi yang yang telah dipelajari sebelumnya, tidak mampu menuntaskan pembelajaran sebelumnya, tidak mampu menuntaskan pembelajaran di jenjang kelas maupun mengalami efek majemuk karena tidak menguasai pembelajaran pada setiap jenjang. Dampak lainnya adalah semakin menguatnya kesenjangan pembelajaran.

Dari segi bahasa merdeka memiliki arti merdeka memiliki makna bebas atau tidak bergantung. Pada kurikulum merdeka sendiri, kata merdeka menekankan pada satu konsep utama yaitu kemandirian, bukan bebas tanpa aturan. Lalu bagaimanakah peran guru dalam konsep utama kurikulum merdeka ini? Akankah aspek pedagogik yang dimiliki guru akan berkurang?

Guru sebagai fasilitator dalam Pendidikan diharapkan memiliki 4 kompetensi untuk mendukung perannya, salah satunya adalah pedagogik. Pedagogik sendiri bermakna ilmu pengajaran, merupakan cabang ilmu yang menitik beratkan pada cara terbaik memfasilitasi pembelajaran. Aspek pedagogis “Kurikulum Merdeka” menekankan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang dimaksudkan untuk menumbuhkan pemikiran kritis, kreativitas, dan kemandirian di kalangan siswa. Beberapa aspek pedagogis kunci dari “Kurikulum Merdeka” meliputi:

1. Pembelajaran aktif: “Kurikulum Merdeka” mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Ini berarti bahwa guru didorong untuk menggunakan berbagai metode pengajaran, seperti diskusi kelompok, proyek langsung, dan kegiatan pemecahan masalah.

2. Pembelajaran yang dipersonalisasi: “Kurikulum Merdeka” mengakui bahwa setiap siswa adalah unik, dengan kelebihan, minat, dan gaya belajar masing-masing. Oleh karena itu, kurikulum dirancang agar fleksibel dan mudah beradaptasi, memungkinkan guru menyesuaikan metode pengajarannya dengan kebutuhan dan kemampuan siswanya.

3. Pembelajaran berbasis keterampilan: “Kurikulum Merdeka” berfokus pada pengembangan keterampilan praktis yang relevan dengan karir masa depan siswa dan kehidupan sehari-hari. Ini termasuk keterampilan seperti komunikasi, pemecahan masalah, kerja tim, dan kewirausahaan.

4. Pendidikan karakter: “Kurikulum Merdeka” mengakui pentingnya pengembangan karakter dan nilai-nilai siswa, di samping kemampuan akademik mereka. Oleh karena itu, kurikulumnya mencakup mata kuliah tentang etika, kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kesadaran lingkungan.

Secara keseluruhan, aspek pedagogis “Kurikulum Merdeka” dirancang untuk memberdayakan siswa agar berperan aktif dalam pembelajaran mereka sendiri, dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk berhasil di dunia modern.

Berita Lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru